Rabu , 12 Mei 2021

Kisah Mendiang Dono, Berkelahi hingga Hampir Hilang Terseret Arus Sungai

12 Januari 2021 20:31 WIB


Wahyu Sardono (Dok. Istimewa)

Solotrust.com - Warkop DKI hingga kini namanya masih tetap berkibar, meskipun dua pentolannya Dono dan Kasino telah berpulang terlebih dahulu, meninggalkan Indro sebagai satu-satunya personel tersisa.

Akun YouTube Amariel mengunggah sebuah wawancara saat almarhum Dono masih hidup. Sang komedian menceritakan kisah kesehariannya hingga berpentas bersama Warkop DKI.



"Nama saya Wahyu Sardono yang diberikan oleh orang tua saya. Wahyu itu artinya rahmat Tuhan, Sar itu saya lahir di bulan Jawa 'besar' dan Dono itu pemberian. Jadi pemberian rahmat Tuhan yang besar itu ya saya ini," jelas mendiang Dono dalam wawancaranya, dikutip solotrust.com, Selasa (12/01/2021).

Almarhum Dono merupakan anak laki-laki satu-satunya dari empat bersaudara. Dono mengaku pernah berkelahi saat masih kecil, namun sering kali pula dirinya dipukuli.

Ia pun menceritakan sewaktu kecil pernah hanyut terbawa arus sungai saat pulang dari nonton wayang kulit. Beruntung, dirinya bisa selamat dari musibah itu.

Dono juga mengungkapkan, pernah suatu ketika dirinya menaksir seorang wanita. Demi bisa menarik perhatiannya, komedian ini berusaha membuat sebuah puisi. Menariknya, puisi itu dinamakan gadis yang dicintainya dan dikirimkan ke media massa.

Mengetahui dirinya tak merasa mengirim puisi, gadis yang ditaksir merasa kebingungan. Waktu pun berlalu dan gadis pujaan tersebut justru menaksir teman almarhum Dono. Tak ayal, pupuslah harapan pria kelahiran Kota Solo, 30 September 1951 mendapatkan cinta gadis idamannya.

Menjadi seorang pelawak atau komedian, diakui almarhum Dono bukan merupakan cita-cita sebab dirinya ingin berprofesi sebagai dokter. Seiring berjalannya waktu, cita-citanya berubah menjadi seorang wartawan, namun tak kesampaian.

Singkat cerita, pada suatu saat di sebuah acara kampus, dirinya bersama Kasino dan beberapa teman mengisi sebuah acara. Bens Leo pun menulis acara itu di sebuah media hingga akhirnya seluruh Indonesia mengetahui kelompok mereka. Tak disangka, tawaran untuk tampil di televisi pun datang.

"Dari situ kami kemudian membentuk sebuah grup mini. Warung Kopi namanya," ungkap almarhum Dono.

Formasi awal Warkop, menurut Dono, selain dirinya ialah almarhum Kasino, almarhum Nanu, almarhum Rudy Badil, dan Indro. Namun, almarhum Rudy Badil tak berselang lama mengundurkan diri karena sering macet di atas panggung. Ia pun memilih berada di balik layar.

Dalam mengolah lawakan, almarhum Dono mengatakan selalu berusaha membuat hiburan yang membuat orang lain tertawa. Ia juga mengungkapkan hal paling membuat sedih ialah ketika lima menit berada di atas panggung, lawakan terasa garing dan tidak mampu membuat penonton tertawa.

Dirinya pun berusaha membelokkan materi lawakan. Ia sedikit meramunya dengan hiburan politik atau dengan guyonan sedikit menjurus porno, sehingga suasana kembali 'hidup' daripada sebelumnya.

Almarhum Dono juga memberikan tips agar tidak gagal kala melakukan pentas lawakan di atas panggung. Salah satunya menggunakan sound system besar dan bisa menguasai penonton. Menurutnya, apabila sound system tidak keras, volume suaranya akan kalah dengan suara penonton.

Pada rekaman wawancara itu, mendiang Dono juga membuka rahasia lawakan saat hendak pentas. Ia terlebih dahulu melakukan riset mendalam untuk mengumpulkan materi ke tempat atau kota yang nantinya akan melawak di sana.

Selain itu, menurut almarhum Dono, jika akan tampil melawak sangat diperlukan latihan. Hal tersebut penting agar nantinya lawakan yang dilontarkan anggota lainnya dapat dipahami satu sama lain. (dd)

(redaksi)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com