Jumat , 30 Oktober 2020

Saling Klaim ‘Nyawiji’, Rencana Deklarasi Damai Pilkada Wonogiri Batal

26 September 2020 15:52 WIB


Ketua KPU Wonogiri mencoba memediasi saat deklarasi damai batal.

WONOGIRI, solotrust.com-  Penandatanganan kesepakatan kampanye damai pasangan calon (paslon) Bupati dan Wakil Bupati Wonogiri yakni Hartanto- Joko Purnomo (Harjo) nomer 1 dan paslon Joko Sutopo-Setyo Sukarno (Josss) nomer 2 di kantor KPU Wonogiri, Sabtu (26/9/2020) sempat diskors hingga 1,5 jam.

 Skorsing dilakukan setelah Sriyono, dari tim paslon josss menginterupsi sebelum kegiatan deklarasi penandantanganan damai digelar. Sriyono mengatakan, deklarasi kampanye damai belum bisa dilakukan karena ada satu ganjalan.



“Dalam rembuk LO kemarin hingga tadi malam belum ada kata sepakat terkait kata ‘nyawiji’.” Kata Sriyono.

Sebelumnya Paslon 02 sebagai petahana telah membranding kata go-nyawiji sesarengan mbangun wonogiri, sekaligus menjadikan tag line itu sebagai visi misi. Tetapi kata nyawiji juga digunakan paslon harjo 01 saiyek saeko kapti nyawiji milih nomer siji.

Untuk itu Sriyono meminta persoalan itu dituntaskan sebelum penandatanganan benar-benar dilaksanakan.

Sementara itu salah seorang anggota tim paslon Harjo, Umar mengatakan, kata “nyawiji” bisa digunakan oleh siapapun, dia meminta tahapan penandatanganan deklarasi damai tetap dilakukan.  

“Kalau memperdebatkan persoalan ‘nyawiji’ itu, kata itu dimiliki oleh orang banyak tidak boleh di klaim oleh siapapun. Kalau mau klaim-klaiman kita juga bisa, karena kita nyawiji itu berasal dari kata dasarnya ‘siji’.” Jelasnya.

Adanya perdebatan tersebut, Ketua KPU Wonogiri, Toto Sihsetyo meminta dua paslon berembukdan waktu diskorsing.  

Dua paslon akhirnya berembuk di ruangan kantor KPU Wonogiri. Paslon Harjo didampingi anggota tim demikian juga paslon Josss didampingi anggota tim untuk berembuk soal kata ‘nyawiji’.

Hingga 1,5 jam berlangsung akhirnya agenda deklarasi damai dilanjutkan dan diputuskan oleh Ketua KPU, Jika agenda  deklarasi cukup dilakukan dengan agenda doa bersama dan tidak diikuti dengan penandatanganan pakta damai. Usai acara, kedua belah kubu mengklaim berhak memakai kata ‘nyawiji’. Oleh karena pihak KPU untuk sementara tidak akan mencetak alat peraga kampanye lantaran masih terjadi perselisihan.  

“Prinsipnya hari ini kita mendoakan masa kampanye judil, damai, berbudaya dan bermartabat.” Urai ketua KPU. (noto)

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com