Rabu , 14 April 2021

Ahli Epidemiologi: Program Vaksinasi Membutuhkan Partisipasi Semua Pihak

16 Januari 2021 13:17 WIB


Ilustrasi vaksin (Dok. Istimewa)

JAKARTA, solotrust.com - Pemerintah Indonesia telah melaksanakan proses perdana dari program vaksinasi bertahap dengan Presiden RI Joko Widodo sebagai orang pertama mendapatkan suntikan Vaksin Sinovac, Rabu (13/01/2021), pukul 09:42 WIB di Istana Negara, Jakarta Pusat.

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia, Dr. dr. Hariadi Wibisono, proses vaksinasi perdana disiarkan secara langsung itu merupakan cara tepat untuk meyakinkan masyarakat atas keamanan vaksin yang digunakan.



“Ini adalah suatu momen yang sangat penting untuk meyakinkan masyarakat bahwa pemerintah tidak akan memberikan sesuatu yang bernilai mudharat ke masyarakat. Dengan menerima vaksin Covid-19 lebih dulu, para pemimpin kita ini telah memberikan contoh yang baik agar masyarakat tidak perlu lagi takut dan ragu untuk divaksinasi,” ungkapnya pada siaran pers diterima solotrust.com melalui Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN).

Sebelumnya Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah menjamin keamanan vaksin Covid-19 produksi Sinovac. Vaksin ini digunakan pada tahap pertama program vaksinasi di Indonesia, dengan mengeluarkan izin penggunaan darurat atau emergency use authorization (EUA).

BPOM juga telah mengumumkan hasil efikasi berdasarkan uji klinik fase tiga di Indonesia yang mencapai 65,3 persen. Angka efikasi ini lebih tinggi dari ketentuan WHO menetapkan syarat minimal efikasi vaksin Covid-19 sebesar 50 persen.

Hariadi Wibisono melanjutkan, isu efikasi erat kaitannya dengan seroconversion. “Seroconversion itu adalah seberapa jauh tubuh kita mampu bereaksi terhadap vaksin. Seroconversion bukan ditentukan oleh kualitas vaksin, tapi oleh kondisi tubuh seseorang. Ada orang-orang yang tubuhnya tidak mampu membentuk antibodi, sehingga sebagus apa pun vaksin yang diberikan tidak akan berpengaruh terhadap tubuh mereka,” terang dia.

Hariadi Wibisono menambahkan, faktor kualitas rantai dingin (cold chain), yakni sejak vaksin keluar dari pabrik hingga saat akan disuntikkan juga akan menentukan baik atau tidaknya kualitas vaksin.

“Pengawasan rantai dingin yang baik juga akan memengaruhi kualitas vaksin. Vaksin Covid-19 dari Sinovac yang kita gunakan saat ini dibuat dengan metode inactivated virus. Indonesia telah memiliki pengalaman berpuluh tahun dalam membuat dan mengelola vaksin dengan model seperti itu," jelasnya.

"Dari sisi produksi, saya yakin produsen kita sudah siap dan berpengalaman. Sedangkan dari sisi distribusi, infrastruktur kita juga sudah siap karena suhu penyimpanan vaksin harus dijaga di dua hingga delapan derajat Celsius. Puskesmas dan dinas kesehatan provinsi kita sudah punya yang namanya rantai dingin itu tadi, yaitu lemari es, freezer dan alat lainnya yang mampu menjaga suhu di dua hingga delapan derajat Celsius, sehingga tidak perlu investasi tambahan,” tambah Hariadi Wibisono.

Sebagai upaya bersama membebaskan masyarakat Indonesia dari pandemi, pihaknya menekankan program vaksinasi bertahap ini membutuhkan partisipasi semua pihak, termasuk tenaga kesehatan yang menjadi kelompok pertama program vaksinasi.

“Saya mengajak seluruh masyarakat, terutama para tenaga kesehatan untuk ikut divaksinasi karena vaksinasi ini tidak hanya melindungi diri kita, tapi juga keluarga dan lingkungan, serta masyarakat luas. Percayalah bahwa pemerintah pasti sudah memilih yang terbaik untuk kita. Jangan sampai kita menjadi sumber penularan Covid-19, tapi jadilah pemutus rantai penularan tersebut,” pesan Hariadi Wibisono. (elv)

(redaksi)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com