Minggu , 29 Maret 2020

Keraton Surakarta Hilangkan Sengkolo Harapkan Kerukunan Melalui Upacara Wilujengan Nagari Mahesa Lawung

26 Desember 2019 20:12 WIB


Upacara Wilujengan Mahesa Lawung di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan di Hutan Krendawahono, Gondangrejo, Karanganyar, Kamis (26/12/2019) siang


SOLO, solotrust.com – Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar upacara Wilujengan Nagari Mahesa Lawung di Pagelaran Keraton, Kamis (26/12/2019). Upacara diikuti oleh ratusan abdi dalem, sentana dalem dan para kerabat.



Dalam Tradisi Mahesa Lawung yang menjadi sesaji utama adalah kepala kerbau, dibungkus dalam kain kafan, ditanam di sebuah galian tanah yang dipersiapkan di Hutan Krendawahono, Kecamatan Gondangrejo, Kabupaten Karanganyar.

Sebelum upacara dimulai, dilaksanakan pementasan kesenian reog dan kethek ogleng, setelah itu upacara dimulai dengan doa bersama dipimpin oleh pemuka agama, para peserta upacara khusuk mengikuti prosesi duduk melingkari sesajian sedulur papat lima pancer

Setelah didoakan di Keraton kemudian dibawa ke hutan tersebut. Sesampai di hutan kawasan tempat ritual, lalu diadakan kembali sebuah prosesi doa dengan sesajian atau ubo rampe dengan membakar arang dalam sebuah tungku dan pendupaan di samping pendopo.

Adapun upacara tersebut biasa digelar pada Senin atau Kamis Jumadil akhir atau Rabiul akhir kalender Jawa, kali ini jatuh pada Kamis Rabiul Akhir. Wilujengan Nagari Mahesa Lawung dilakukan oleh Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat secara turun temurun sejak zaman PB II.

Ketua Lembaga Dewan Adat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Dra. GKR. Wandansari Koes Moertiyah MPd mengatakan, uapacara Wilujengan Nagari Mahesa Lawung memiliki makna menanam kebiasan tidak baik, kotor, buruk, dan bodoh yang disimbolkan melalui kepala kerbau yang dikubur ini sesuai hukum adat yang harus dijalankan.

“Mahesa Lawung ini maknanya pembersihan diri juga untuk menghilangkan sengkolo (rintangan) yang selama ini melanda Keraton Surakarta supaya secepatnya kembali pulih seperti sedia kala, untuk keselamatan seluruh rakyat juga. Kita bersama keluarga besar trah PB ke II sampai ke XIII mengadakan upacara ini, ini ajang silaturahmi antar kerabat dan abdi dalem keraton sesuai paugerannya, kiblat kita semua atas kehendak Allah dan izin Allah,” ujar wanita yang akrab disapa Gusti Moeng itu. (adr)

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com