Senin , 30 November 2020

Prilly Latuconsina Berbagi Tips Menghadapi Cyber Bullying

08 Juli 2020 22:01 WIB


Prilly Latuconsina.

 

JAKARTA, solotrust.com- Aktris Prilly Latuconsina mengaku pernah ingin menyakiti diri sendiri ketika usianya masih 18 tahun. Saat itu, kariernya tengah menanjak dan mulai menjadi sorotan publik. Situasi itu membuatnya tak nyaman. Banyak gosip yang berseliweran tentang dia. Terlepas informasinya betul atau salah, Prilly tak siap dengan apa yang terjadi.



"Kalau nggak mau di-bully ya jangan jadi artis, bahwa profesi kami wajar kalau di-bully tapi mereka juga lupa kalau ada etikanya menggunakan sosial media, memberikan kritik yang sesuai pada tempatnya," ungkap Prilly dalam Diskusi Hari Anak Nasional dengan tema Lindungi Anak dari Perundungan di Media Daring Selama Masa Pandemi Covid-19, Selasa (7/7/2020).

Prilly mengatakan, ketika kita melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang diharapkan orang lain maka dia rentan mengalami perundungan. Padahal setiap orang menurut Prilly punya prinsip sendiri-sendiri.

"Waktu aku usia 18 tahun setiap di-bully rasanya marah, tak terkendali dan punya pikiran ingin menyakiti diri dan sendiri, karena dalam usia masih muda harus menanggung sendiri sementara di sisi lain kita juga bekerja. Kita juga harus membagi waktu antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi," ucap perempuan kelahiran 15 Oktober 1996 ini.

Anak yang masih berusia 18 tahun, menurut Prilly sebenarnya belum siap menerima kondisi demikian, perlu edukasi dari orang tua, termasuk kalau harus konsul ke psikologi.

Selanjutnya, agar orang tidak melabeli dan tidak termakan label, dia sadar akan nilai yang ada di dalam diri. Penting juga menyadari bahwa label itu tidak menempel dan tidak menjadi keniscayaan.

"Aku pernah menganggap diri aku seperti label yang orang lekatkan misalnya pernah banyak yang bilang kalau aku seorang artis yang tidak berkualitas," ucap Prilly.

Lantas bagaimana cara Prilly menghadapinya hingga ia bisa melaluinya saat ini? Dia minta pertolongan ke orang tua dan dampingan psikolog. Tapi banyak anak di usia segitu tidak nyaman terbuka sama orang tua.

"Kalau dalam kisah aku, orang tua sampai memantau lewat sosial media agar tahu apa yang terjadi sama aku, akhirnya sih pertemanan terfilter mana yang sejalan dengan aku," paparnya.

Hal yang tidak kalah penting ialah mengubah mindset bahwa ada value dalam diri setiap orang. Jadi setiap ada perundungan yang masuk bisa ditangkal dengan nilai tersebut. 

"Apa yang kita katakan di sosial media adalah cerminan diri kita, kalau kita melabeli dan mem-bully orang ya itu jadi refleksi diri sendiri. Yang jelek ya yang mem-bully bukan korban, kalau kata psikolog mereka merasa tidak cukup dan bahagia dalam hidupnya sehingga ada keinginan bully untuk memuaskan dirinya sendiri," kata dia.

Alih-alih membalas, Prilly pilih untuk mengedukasi pada bahwa bukan begitu caranya meninggikan diri. Salah satunya dengan melakukan kegiatan positif di sosial media yang memberikan pengaruh pada orang lain.

"Kalau ada yang DM yang isinya bully ya aku semangatin dan aku kasih tahu bagaimana cara menggunakan sosial media yang positif, jadi aku edukasi dan tenangkan mereka bahwa bukan begitu caranya kalau mau meninggikan diri," lanjut dia.

Dia juga membuktikan kepada mereka yang melakukan cyber bullying dengan karya dan aktivitas yang baik sehingga tak pantas untuk mengalami perundungan. Mereka akan pergi dengan sendirinya. #teras.id

 



(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com