Selasa , 26 Mei 2020

Mengenang Ki Hajar Dewantara, Sosok di Balik Sejarah Hardiknas

2 Mei 2020 11:31 WIB


Ki dan Nyi Hajar Dewantara (Foto: historia.id)

Solotrust.com - Ing Ngarso Sung Tulodo (menjadi guru harus bisa menjadi teladan, baik pada murid atau orang sekitar). Ing Madyo Mangun Karso (menjadi guru harus bisa membangkitkan semangat para murid). Tut Wuri Handayani (menjadi guru harus bisa menjadi energi, memberi dorongan moral dan kekuatan). 

Itulah tiga semboyan Ki Hajar Dewantara untuk dunia pendidikan. Berkat kiprahnya, 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) sesuai hari kelahiran tokoh bangsa itu, 2 Mei 1889.



Ki Hajar Dewantara terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat di Pakualaman Yogyakarta pada 2 Mei 1889, putra dari GPH Soerjaningrat dan cucu dari Pakualam III. Terlahir dari keluarga di lingkungan Kadipaten Paku Alam, mengutip Wikipedia, Soewardi muda menyelesaikan sekolah di ELS (Sekolah Dasar Belanda/Eropa) dan kemudian melanjutkan ke STOVIA (Sekolah Dokter Bumiputera). Mengalami gangguan kesehatan, Soewardi akhirnya tidak melanjutkan sekolahnya di STOVIA.

Soewardi muda lalu menjadi seorang penulis di beberapa surat kabar. Tulisan-tulisannya sangat tajam. Dirinya menjadi seorang penulis andal, menyuarakan semangat antikolonial melalui tulisannya yang sangat komunikatif.

Soewardi muda juga bergabung dengan organisasi Boedi Oetomo (BO) pada 1908. Di organisasi sosial politik ini, Soewardi aktif di seksi propaganda. Dirinya selalu menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) atas pentingnya semangat persatuan dan kesatuan untuk berbangsa dan bernegara.

Akibat tulisannya kerap mengkritisi pemerintahan Hindia Belanda kala itu, Soewardi muda ditangkap dan dibuang ke pengasingan di Belanda. Justru dalam pengasinganlah akhirnya Soewardi merintis cita-cita untuk memajukan kaum pribumi setelah bersekolah di Europeesche Akta yang nantinya menjadi pijakan Soewardi muda mendirikan lembaga pendidikan.

Setibanya kembali dari pengasingan 1919, Soewardi muda pada 3 Juli 1922 kemudian mendirikan Perguruan Nasional Taman Siswa pada usianya ke-40 tahun. Dia kemudian mengubah namanya menjadi Ki Hajar Dewantara dan tidak menggunakan gelar di depan namanya agar lebih dekat dengan rakyat.

Ki Hajar Dewantara juga tercatat menjadi Menteri Pengajaran Indonesia (atau Menteri Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan). Ki Hajar Dewantara meninggal dunia pada 26 April 1959. Selang tujuh bulan kemudian, tepatnya 28 November 1959, Ki Hajar Dewantara dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional kedua.

(redaksi)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com