Rabu , 12 Mei 2021

Diskusi Soal Kepulangan Rizieq Shihab, Pengamat Islam Politik: Ujian Demokrasi Kita

21 Desember 2020 19:54 WIB


Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAM-I) menggelar kegiatan seminar online melalui zoom meetting.

SOLO, solotrust.com- Polemik terkait kepulangan Rizieq Shihab, Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) ke tanah air berbuntut panjang. Pengamat Islam politik, Said Muhammad mengatakan, hadirnya kembali Rizieq Shihab di Indonesia menjadi semacam ujian demokrasi.

Bahkan, kata Said, fenomena Habib Rizieq di Indonesia selain memang membangkitkan geliat demokrasi, juga di sisi lain menjadi ancaman bagi demokrasi.



“Melihat riak-riak di pusat dan daerah beberapa waktu terakhir memang mengindikasikan ada semacam gerakan massa yang sekaligus menjadi ujian demokrasi kita. Tetapi, dalam konteks nation state, ketika ada gagasan yang membahayakan negara, pemerintah memang harus melakukan tindakan terukur, baik secara hukum atau security state,” ungkap Said dalam webinar bertajuk “Membaca Kepulangan Rizieq Shihab: Ancaman Demokrasi dan Menguatnya Intoleransi?” yang digelar Himpunan Ativis Milenial Indonesia, Senin (21/12/2020).

Menurut Said, Habib Rizieq sejak awal memang terjerat kasus hukum sebelum kepergiannya ke Arab Saudi. Fakta ini kemudian seolah memunculkan narasi diskriminasi ulama yang terus digelorakan oleh kelompok pengikutnya.

“Tetapi dari awal kita melihat pihak kepolisian seperti tidak mau mengambil risiko karena ada indikasi menguatnya parlemen jalanan dan tekanan massa. Bahkan di daerah dan pusat kita melihat ada arogansi massa pendukung yang berimbas pada gesekan dan polarisasi publik,” ungkap peneliti Institute for Southeast Asian Islam tersebut.

Selain itu, lanjut Said, Rizieq Shihab juga memiliki political effect yang terlihat dari dinamika sebelum dan paska kepulangannya dari Arab Saudi. Termasuk jargon revolusi akhlak yang diusarakan FPI terlihat lebih sebagai bahasa politik.

“Bahasa akhlak itu sebenarnya punya tendensi politik, sebagai counter wacana terhadap revolusi mentalnya Jokowi. Revolusi mental dianggap punya irisan dengan komunis-ateis. Revolusi akhlak itu sebenarnya untuk mencari simpti masyarakat saja. Bahkan, yang lebih relevan berbicara soal revolusi akhlak adalah kalangan ormas tradisional. NU, Muhammadiyah, dan Persis bahkan sudah melakukan itu melalui lembaga keagamaan mereka yang mengakar hingga pelosok desa,” tukasnya.

Sementara itu, Himpunan Aktivis Milenial Indonesia (HAM-I) menggelar kegiatan seminar online melalui zoom meetting dengan dipandu oleh dua narasumber, yakni Said Muhammad, dan Faisal Riza. Hadir dalam diskusi ini ratusan peserta dari kalangan milenial, mahasiswa, dan pelajar. (awa)

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com