Kamis , 13 Mei 2021

Kebosanan Saat Pandemi, Begini Kata Psikolog Anak

12 Desember 2020 14:45 WIB


Psikolog anak dan pendidikan, Elizabeth Santosa saat diskusi Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN).

JAKARTA, solotrust.com – Pandemi Covid-19 bukan halangan untuk tetap produktif dan kreatif. Justru karena aktivitas kita lebih banyak di rumah saja, waktu-waktu ini bisa dimanfaatkan untuk lebih dekat dengan keluarga, terutama memberikan waktu lebih kepada anak-anak, menemani mereka dalam masa tumbuh kembangnya. 

Pendiri Komunitas PRAKARDUS, Muhammad Luqman Baehaqi, bercerita pengalaman inspiratifnya memanfaatkan waktu secara kreatif bersama anak-anak.



“Awalnya berkreasi dengan kardus ini sebagai solusi untuk memberi kegiatan sekaligus hiburan pada anak karena rumah kami jauh dari pusat hiburan dan pusat perbelanjaan. Kemudian kegiatan kami pun diminati banyak orang sehingga berlanjut memberi workshop tiap akhir minggu,” kisahnya disampaikan dalam Dialog Produktif bertema Pandemi Tak Halangi Kreasi yang diselenggarakan Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPCPEN), Jumat (11/12/2020). 

Berbicara mengenai kreativitas, psikolog anak dan pendidikan, Elizabeth Santosa, mengungkapkan kreativitas adalah salah satu kemampuan manusia yang sudah ada dalam diri untuk bisa digunakan dalam mencari jalan keluar. 

“Jadi kalau saya bisa katakan, kreatif itu hubungannya dengan solusi, mencari jalan keluar, proses membuat keputusan. Bukan selalu tentang menghasilkan prakarya saja,” tuturnya. 

Lebih lanjut dijelaskan, kreativitas itu biasanya muncul dalam masa sulit.

“Biasanya pada saat kita dalam kondisi adem ayem, enak, atau nyaman kreativitas jarang muncul. Namun, kreativitas akan muncul kalau dalam keadaan kepepet. Idealnya, pada masa gelap seperti masa pandemi ini harusnya banyak kreativitas yang muncul,” katanya. 

Elizabeth Santosa juga berpesan kepada orangtua, di masa pandemi ini jangan memberikan terlalu banyak fasilitas gadget agar menstimulus kreativitas anak-anak.

“Biarkan mereka berfikir. Seperti yang dilakukan pak Luqman Baehaqi. Kasih kardus atau spidol, terserah nanti itu mau jadi apa. Nanti kalau anak-anak menyerah, baru kita ajak untuk bikin sesuatu bersama-sama. Tapi, kalau selalu dibantu dan diberikan terlalu banyak fasilitas, kemampuan kreativitasnya tidak berkembang, tidak terstimulasi, harus ada sesuatu yang menstimulus,” terangnya. 

Dalam proses menjadi kreatif, menurut Luqman, orang tua dan anak tidak perlu berpikir terlalu jauh tentang bagaimana hasil akhirnya nanti, tapi fokus untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.

Saya sebenarnya lebih senang mengatakan bahwa ketika kita tahu alasan untuk melakukan sesuatu, anak-anak juga turut merasakan apa yang kita rasakan. Ini lebih baik daripada sekadar mencari tahu apa yang harus kita lakukan,” tutur Luqman Baehaqi. (elv)

(redaksi)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com