Pend & Budaya

Inovasi Limbah Bonggol Jagung jadi Briket oleh KKN UNS 232: dari Limbah Menjadi Berkah, dari Desa untuk Indonesia

Pend & Budaya

29 Agustus 2025 17:06 WIB

Mahasiswa KKN kelompok 232 Universitas Sebelas Maret (UNS) melaksanakan kegiatan sosialisasi bertema Inovasi Limbah Bonggol Jagung Menjadi Briket: Dari Limbah Menjadi Berkah, Dari Desa Untuk Indonesia di Dusun Wengkal, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk pada 4 Agustus 2025

NGANJUK, solotrust.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari kelompok 232 Universitas Sebelas Maret (UNS) dengan bimbingan Dr. Asal Wahyuni Erlin Mulyadi, S.Sos., M.PA telah melaksanakan kegiatan sosialisasi bertema Inovasi Limbah Bonggol Jagung Menjadi Briket: Dari Limbah Menjadi Berkah, Dari Desa Untuk Indonesia” di Dusun Wengkal, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk pada 4 Agustus 2025.

Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat desa melalui inovasi pemanfaatan limbah pertanian, khususnya bonggol jagung yang selama ini kurang dimanfaatkan secara optimal. Dengan semangat mengembangkan potensi lokal, sosialisasi ini dilakukan sebagai bentuk upaya ketahanan pangan dan pemberantasan kemiskinan di tingkat pedesaan.



Dusun Wengkal dikenal sebagai salah satu sentra produksi jagung di Kabupaten Nganjuk. Setiap musim panen, hasil jagung melimpah, namun menyisakan limbah bonggol dalam jumlah besar yang selama ini hanya dibakar atau dibiarkan membusuk di lahan. Permasalahan ini menjadi titik awal munculnya ide inovatif dari para mahasiswa KKN untuk mengolah limbah tersebut menjadi briket sebagai sumber energi alternatif.

Secara ilmiah, bonggol jagung memiliki kandungan lignoselulosa, yakni kombinasi lignin, selulosa, dan hemiselulosa yang merupakan komponen utama pembentuk biomassa padat dan ideal sebagai bahan baku briket. Proses karbonisasi dilakukan terhadap bonggol jagung menghasilkan arang dengan kadar karbon stabil dan kelembapan rendah, menjadikannya bahan bakar efisien dan tahan lama.

Inovasi briket diperkenalkan melalui kegiatan ini melibatkan proses karbonisasi sederhana yang dapat dilakukan dengan alat-alat terbatas. Bonggol jagung dikeringkan, dibakar dengan menggunakan tong pembakaran terbatas hingga menjadi arang, kemudian dilakukan penumbukan dan pengayakan untuk mendapatkan tekstur halus kemudian dicampur dengan bahan perekat alami seperti tepung kanji dan dicetak menjadi briket padat.

Hasilnya adalah bahan bakar alternatif ramah lingkungan, memiliki daya bakar tinggi, dan mampu bertahan lama. Briket ini tidak menghasilkan asap tebal seperti kayu bakar dan sangat cocok digunakan sebagai bahan bakar memasak di rumah tangga maupun untuk kebutuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) kuliner. Selain itu karena proses produksinya tidak memerlukan teknologi mahal, inovasi ini sangat memungkinkan untuk diadopsi masyarakat pedesaan secara luas.

Melalui sosialisasi ini, masyarakat diperkenalkan tidak hanya pada teknologi pembuatan briket, namun juga pada nilai ekonomis yang dapat diperoleh dari limbah pertanian yang semula dianggap tidak bernilai. Dengan pengelolaan tepat, limbah dapat diubah menjadi sumber penghasilan tambahan, membuka peluang usaha baru, serta memperkuat ketahanan energi di tingkat rumah tangga.

Kehadiran energi alternatif seperti briket juga dapat mengurangi kebergantungan masyarakat terhadap LPG bersubsidi yang ketersediaannya sering kali terbatas, sekaligus menekan biaya pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Selain aspek ekonomi, penggunaan briket dari bonggol jagung juga memiliki dampak positif bagi lingkungan karena dapat mengurangi emisi gas rumah kaca dan risiko kebakaran akibat pembakaran limbah terbuka

Respons masyarakat terhadap kegiatan ini sangat positif. Warga Dusun Wengkal menunjukkan antusiasme tinggi, khususnya para ibu rumah tangga yang melihat peluang baru dari inovasi ini. Salah satu peserta sosialisasi, Sulastri, mengatakan selama ini bonggol jagung hanya dibuang, dan mereka tidak pernah membayangkan limbah tersebut bisa dijadikan bahan bakar untuk memasak atau bahkan dijual.

Menurutnya, jika produksi briket ini dibina dengan baik, masyarakat akan sangat terbantu secara ekonomi dan bisa lebih mandiri dalam memenuhi kebutuhan energinya sendiri. Kegiatan sosialisasi inovasi briket dari limbah jagung ini diharapkan menjadi tonggak awal lahirnya ekonomi sirkular berbasis desa.

Dengan memanfaatkan potensi lokal secara berkelanjutan, masyarakat tidak hanya berkontribusi dalam pelestarian lingkungan, namun juga memperkuat fondasi ekonomi keluarga. Inovasi ini membuktikan solusi atas persoalan ketahanan pangan dan kemiskinan bisa lahir dari kreativitas lokal sederhana, namun berdampak besar.

Melalui semangat gotong royong, edukasi, dan kemandirian energi, Dusun Wengkal selangkah lebih maju menuju desa mandiri yang tangguh secara ekonomi, lingkungan, dan sosial. Inilah bentuk nyata kontribusi mahasiswa KKN dalam membangun desa: dari limbah menjadi berkah, dari desa untuk Indonesia.

(and_)