Senin , 12 April 2021

Solo Jadi Percontohan Penanganan Stunting, Gibran Ingin Punya RS dan Puskesmas Khusus Ibu-Anak

09 Maret 2021 14:31 WIB


Kepala BKKBN Hasto Wardoyo dalam kunjungan kerja ke Kota Solo, Senin (08/03/2021). Hasto bertemu Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka di ruang rapat wali kota. (Dok. Istimewa/jatengprov.go.id)

SOLO, solotrust.com - Kota Solo dipilih menjadi daerah percontohan program pendataan keluarga dan penurunan angka stunting oleh Badan Kependudukan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Pasalnya, angka stunting di kota ini termasuk terendah di Indonesia, demikian pula dengan angka kematian ibu hamil juga rendah.

Hal itu disampaikan Kepala BKKBN Pusat Hasto Wardoyo dalam kunjungan kerja ke Kota Solo, Senin (08/03/2021). Hasto bertemu Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka di ruang rapat wali kota.



“Dari 153.109 KK (kepala keluarga-red), kami data kondisi semua anak di Surakarta (Solo) yang berisiko stunting. 53 variabel untuk data stunting untuk pengambilan kebijakan. Satu per satu by name by address akan terurai. Bersama BKKBN pusat, provinsi dan Kota Surakarta kami akan launching (luncurkan-red) Program Pendataan Keluarga pada  tanggal 1 April 2021,” beber Hastho Wardoyo, dilansir dari Portal Resmi Provinsi Jawa Tengah, jatengprov.go.id.

Ia juga menjelaskan dalam Perpres nanti akan diatur pendampingan dari tenaga kesehatan, khususnya pendampingan bidan untuk ibu hamil sehingga bisa meminimalkan stunting. Unsur kader PKK juga akan disertakan dalam pendampingannya.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Solo, Purwanti mengatakan, Kota Solo sudah memiliki program untuk mengantisipasi kasus stunting dan fertility rate dengan program Sultan Nikah Capingan (Konsultasi Pra Nikah bagi Calon Pinanganten).

“Kami andalkan Sultan Nikah Capingan untuk meredam sekaligus menurunkan angka stunting,” ucapnya.

Sementara itu, Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka menyambut baik kunjungan BKKBN pusat dan mengharapkan dukungan serta pendampingan untuk fokus pembinaan keluarga dan mengurangi angka stunting.

“Saya ingin punya rumah sakit dan Puskesmas khusus untuk ibu dan anak. Kita ingin ada satu tempat untuk fokus ibu hamil dan anak. Jangan disatukan dengan orang sakit atau yang lainnya,” jelas Gibran.

Rumah sakit (RS) khusus dan Puskesmas nantinya secara sisi pendapatan bisa menjadi sumber pendapatan asli daerah (PAD) dan menjadi sumber anggaran untuk Program Keluarga Berencana (KB).

“Bekerja sama dengan Pak Hastho (kepala BKKBN), kita tingkatkan pendataan KB dan sosialisasi ke masyarakat,” imbuhnya.

Menurut Gibran, pemerintah Kota Solo tetap berkomitmen untuk menerapkan slogan yang dikenal dengan ‘nguwongke uwong’ (memanusiakan manusia-red), dikemas dalam 3W, yakni waras (sehat), wasis (pinter) dan wareg (kenyang) dalam membangun KB.

Hastho menyambut baik harapan Gibran agar Kota Solo memiliki Puskesmas khusus ibu hamil dan anak.

“Karena ibu hamil atau melahirkan itu bukan orang sakit. Secara profit bisa jadi revenue centre bukan profit centre,” tambahnya.

Perlu diketahui, selama 2020 Kota Solo sudah mengalami kemajuan dan memenuhi target terkait data Keluarga Berencana, di antaranya capaian KB yang sudah 66,21% dan angka Fertility Rate 1,8%, padahal pemerintah pusat baru menargetkan angka 2,1% pada 2021 ini.

“Ini sangat bagus, bahkan mengalahkan target pusat yang 2,1%. Tinggal mempertahankan dan meningkatkan kualitasnya tahun ini. Jangan sampai putus, mulai dari genre (generasi remaja) supaya angka kepadatan penduduk di Surakarta bisa dikendalikan, masyarakat semakin sadar bahwa dua anak lebih sehat dan lebih baik. Juga tentunya agar terbentuk keluarga yang berkualitas dan sejahtera,” tambahnya.

(redaksi)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com