Selasa , 14 Juli 2020

Lord Didi Tutup usia, Ini Asal-usul Nama “Kempot”

05 Mei 2020 12:28 WIB


Didi Kempot.

JAKARTA, solotrust.com- Penyanyi campursari Didi Kempot dijuluki The Godfather of Broken Heart karena lekat dengan lagu-lagu bertema patah hati yang belakangan semakin digemari kaum muda. Di acara penghargaan Billboard Indonesia Music Awards 2020, pada Rabu 26 Februari 2020 malam lalu, Didi bicara tentang cara untuk bisa berkarya di tengah patah hati.

"Patah hati itu enggak usah dibawa terlalu jauh-jauh, jangan ngelamun terlalu panjang. Dibawa untuk hal-hal positif. Kalau ada jiwa seni, bisa untuk melukis, menulis lagu. Kalau pintar masak, bikin menu baru. Daripada patah hati, lebih baik dijogeti!" kata Didi yang konsisten menulis lirik dalam bahasa Jawa.



Didi Kempot pernah mengutarakan alasannya membuat lagu dengan tema patah hati. Genre semacam itu, menurut Didi selalu disukai tak cuma di Indonesia, tapi seluruh dunia.

Maestro campursari ini lahir dari keluarga seniman. Ayahnya adalah Ranto Edi Gudel pemain ketoprak di Jawa Tengah. Ibunya Umiyati Siti Nurjanah, penyanyi tradisional di Ngawi. Kakaknya adalah Mamiek Prakoso, pelawak yang tenar lewat grup Srimulat.

"Saya berseni mungkin karena hidup ke kehidupan seniman tradisional," ucap dia.

Dia meyakini jalan yang dipilih bisa menghidupinya setelah berkaca dari apa yang ia rasakan sendiri. Bila kakaknya mengambil jalur lawak, Didi meneruskan apa yang telah ditempuh sang ibu dan membanggakan kedua orangtua.

Jauh sebelum Didi Kempot semakin digilai kaum muda yang menjulukinya The Godfather of Broken Heart, penyanyi ini memulai karier sebagai musisi jalanan. Nama Kempot yang tersemat di namanya punya hubungan dengan asal-usul perjalanan musiknya. Sebelum masuk ke dunia rekaman, ia sempat jadi penyanyi jalanan alias Kempot, Kelompok Penyanyi Trotoar.

Nama Didi Kempot tenar di negara Suriname dan Belanda, bahkan dia beberapa kali memenangi anugerah musik nasional di Suriname. Lagu Cidro menjadi awal kepopulerannya di negara Amerika Selatan bekas jajahan Belanda itu.

"Saya nyanyi ada satu lagu Jawa judulnya Cidro, di Indonesia kurang terkenal, ternyata ada turis Suriname di Indonesia, domisili di Belanda, lagu itu lalu diputar di radio Amsterdam, lagunya digemari sekali."

Belasan kali penyanyi bernama lengkap Didi Prasetyo ini bolak-balik ke Suriname untuk manggung. Komunitas Jawa di Suriname mencapai 15 persen dari total populasi.

Namun, menurut Soewarto Moestadja, yang menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri Suriname pada 2013 lalu, musik Didi tak cuma populer di komunitas Jawa, melainkan orang-orang Suriname yang memang penggemar musik campur sari serta keroncong.

Ia tak menyangka mantan pengamen jalanan bisa diterima oleh pendengar di Eropa dan Amerika Selatan. Namun yang lebih membanggakan bagi Didi adalah dia bisa menggelar konser akbar di kampung halamannya sendiri.

The Godfather of Broken Heart akan menggelar konser akbar peringatan 30 tahun berkarya bertajuk Ambyar Tak Jogeti di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta pada 10 Juli 2020.

"Konser ini paling membanggakan, di negara saya sendiri... Itu membanggakan karena ternyata Indonesia masih bisa menerima dan menghargai tembang-tembang Indonesia," katanya.

Sayang, konser tersebut tak sempat terlaksana. Didi Kempot meninggal pada Selasa (5/5/2020) di Rumah Sakit Kasih Ibu, Solo, Jawa Tengah. #teras.id

(wd)

  • Kontak Informasi SoloTrust.com
  • Redaksi: redaksi@solotrust.com
  • Media Partner: promosi@solotrust.com
  • Iklan: marketing@solotrust.com